Dewi, Buktikan Keterbatasan Tak Halangi Raih Cita-cita
Bondowoso – Semangat belajar Dewi
Nirmala Indri tak pernah surut meski hidup dalam keterbatasan. Siswi kelas X-B
SMAN 1 Tenggarang itu setiap hari berjalan kaki dari kawasan Bataan menuju
sekolah. Perjuangannya mengundang kepedulian pihak sekolah yang kemudian memberikan
bantuan satu unit sepeda agar ia dapat berangkat dan pulang sekolah dengan
lebih aman dan nyaman.
Bantuan tersebut menjadi bukti bahwa
pendidikan bukan hanya tentang kegiatan belajar di ruang kelas, tetapi juga
tentang memastikan setiap peserta didik memperoleh kesempatan yang sama untuk
meraih cita-cita.
Kisah Dewi bermula saat Kepala SMAN 1
Tenggarang, Ahmad Junaidi, S.Ag., M.Pd.I., melihat seorang siswi berseragam
batik berjalan kaki menuju sekolah. Karena kondisi lalu lintas yang padat, ia
tidak sempat menghentikan kendaraan untuk memberikan tumpangan. Setibanya di
sekolah, rasa penasaran mendorongnya mencari tahu identitas siswi tersebut
melalui wali kelas X-B, Supriyadi, dan guru Bimbingan Konseling (BK).
Setelah dipanggil ke ruang kepala
sekolah, Dewi menceritakan kondisi keluarganya. Ia merupakan anak bungsu dari
lima bersaudara. Ayahnya telah meninggal dunia, sementara sang ibu sedang
berjuang melawan penyakit jantung.
Saat ini Dewi tinggal bersama ibu dan
seorang kakaknya di sebuah rumah kosong milik warga di kawasan Perumahan Bataan
yang dipinjamkan sementara hingga rumah tersebut terjual. Untuk membantu
memenuhi kebutuhan keluarga, setiap malam Dewi bersama kakaknya bekerja sebagai
pencuci piring di sebuah warung nasi goreng di kawasan Bataan.
Meski harus bekerja hingga malam,
semangat Dewi untuk mengenyam pendidikan tidak pernah padam. Setiap hari ia
berjalan kaki menuju SMAN 1 Tenggarang. Kakaknya yang bersekolah di SMAN 1
Pujer juga menjalani perjuangan serupa dengan berjalan kaki menuju sekolah.
Melihat kegigihan tersebut, SMAN 1
Tenggarang memutuskan memberikan bantuan berupa satu unit sepeda yang dapat
digunakan Dewi selama menempuh pendidikan di sekolah.
Kepala SMAN 1 Tenggarang, Ahmad Junaidi,
menjelaskan bahwa sepeda tersebut diberikan dengan sistem hak pakai, sehingga
tetap menjadi aset sekolah dan nantinya dapat dimanfaatkan oleh peserta didik
lain yang memiliki kondisi serupa.
"Kami ingin memastikan tidak ada
peserta didik yang kehilangan semangat belajar hanya karena keterbatasan sarana
transportasi. Sepeda ini diberikan sebagai hak pakai selama Dewi bersekolah.
Setelah lulus, sepeda akan dikembalikan agar dapat dimanfaatkan oleh siswa lain
yang membutuhkan," ujarnya.
Langkah tersebut mendapat apresiasi dari
Kepala Seksi SMA Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Bondowoso, Budi Santoso, M.Pd.
Menurutnya, kepedulian yang ditunjukkan SMAN 1 Tenggarang menjadi contoh nyata
bahwa sekolah memiliki peran penting dalam menghadirkan pendidikan yang
inklusif dan berpihak kepada peserta didik.
"Apa yang dilakukan SMAN 1
Tenggarang patut diapresiasi. Sekolah tidak hanya menjalankan fungsi akademik,
tetapi juga menghadirkan kepedulian sosial yang nyata kepada peserta didik.
Semoga langkah ini menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain untuk terus
menghadirkan pendidikan yang ramah, inklusif, dan berpihak kepada kebutuhan
siswa," ungkapnya.
Kisah Dewi menunjukkan bahwa
keterbatasan ekonomi tidak mampu menghalangi tekad untuk belajar. Di sisi lain,
kepedulian SMAN 1 Tenggarang menjadi bukti bahwa pendidikan yang bermakna lahir
dari empati, gotong royong, dan keberpihakan kepada peserta didik.
Bagi Dewi, sepeda itu bukan sekadar alat
transportasi. Sepeda tersebut menjadi simbol harapan baru agar ia dapat terus
melangkah mengejar cita-cita. Sementara bagi SMAN 1 Tenggarang, bantuan itu
merupakan komitmen bahwa tidak boleh ada peserta didik yang tertinggal hanya
karena keterbatasan kondisi hidup.

Posting Komentar untuk "Dewi, Buktikan Keterbatasan Tak Halangi Raih Cita-cita"